"siem?etnik dobol! raiso mbedake kata etnik karo kontemporer ;)".
Itu isi dari sms teman saya yang terkirim ke handset saya di hari ketiga pelaksanaan SIEM, saat hujan deras memupus harapan para pengunjung untuk menyaksikan aksi Balawan. Inti dari sms itu adalah, dia kesal karena SIEM tidak bisa membedakan antara musik etnik dan musik kontemporer. Benar juga, pikir saya.
Sebenarnya ini adalah sebuah wacana basi. Konon sudah diangkat sejak pagelaran SIEM edisi pertama tahun lalu. Tapi karena saya tidak berkesempatan menyaksikan edisi pertama, baru di SIEM edisi kedua inilah saya bisa menilai.
Oke, mari kita berpikir sejenak. Apakah definisi musik etnik itu? Musik yang dihasilkan dan sekaligus menjadi ciri khas dari suatu etnis tertentu? Ataukah musik yang menggunakan alat musik tradisional? Bisakah musisi yang menggabungkan alat musik modern dengan tradisional disebut sebagai musisi etnik? Menurut teman saya itu, dia menganggap musik gending Jawa (musik yang berbasis pada gamelan) sebagai salah satu contoh dari musik etnik. Lalu saya balik bertanya, andaikata para musisi gending Jawa tersebut mengaransemen ulang Seek & Destroynya Metallica kedalam nada-nada pentatonis, masih bisakah mereka disebut musisi etnik?.
Sekarang mari kita berpaling ke panggung SIEM 2008. Di hari pembukaan, Guruh Soekarno Putra menampilkan tarian yang diiringi dari musik yang disetel melalui pengeras suara. Itukah musik etnik? Di hari kedua, sang Indonesian Queen of Jazz, Syaharani tampil dengan seorang sinden dan mengkombinasikan lirik Inggris dengan tembang Jawa. Itukah musik Etnik? Memang banyak sekali keganjilan yang terkait dengan penggunaan kata Etnik sebagai akronim huruf E di kata SIEM.
Lalu tentang pemilihan Syaharani yang tampaknya dijadikan highlight dari penyelenggaraan tahun ini. Teman saya sempat ngamuk-ngamuk karena merasa dia bukanlah seorang musisi etnik, yes, she's a singer not a musician anyway. Yang tentu saja membuat Syaharani bukanlah seorang duta yang tepat untuk memperkenalkan musik etnik Indonesia ke publik mancanegara. Saya juga sempat terheran-heran ketika menyaksikan nama Syaharani tertampang di publikasi SIEM 2008 ini. Tapi skeptisisme itu dengan sendirinya berubah dengan rasa penasaran dengan kesempatan untuk menyaksikan aksi panggungnya secara langsung. Balawan? Okelah dia memang masih memasukkan unsur musik Bali di dalam musiknya. Tapi spesialisasinya di bidang gitar bukanlah murni etnik Indonesia. Ketika terjadi percampuran, itu sudah menjadi sebuah musik kontemporer.
Hingga saat ini, saya masih merasa bahwa nama Syaharani dan Balawan hanya dijadikan daya tarik untuk menyedot pengunjung semata. Dan nama mereka berdua pun berhenti hanya sebagai gimmick promosi belaka. Nice try.
Di hari ketiga, saya sempat berbincang-bincang dengan orang dalam yang secara tidak langsung ikut terlibat di intern SIEM kali ini. Saya pun mengangkat isu ini ke hadapannya. Dan jawabannya adalah, semua penampil yang berbagi panggung di SIEM 2008 kali ini adalah hasil pilihan dari dua kurator, Rahayu Supanggah dan Gilang Ramadhan. Sehingga ketika terjadi adanya anggapan musik yang tersaji bukanlah murni musik etnik pun secara tidak langsung adalah 'kesalahan' keduanya. Benarkah begitu?
Sebenarnya hasil pilihan dari keduanya juga masih mendapat tentangan dari penyelenggara. Namun hingga akhirnya SIEM diadakan, tentunya semua yang tampil sudah dianggap bisa mempresentasikan musik etnik itu sendiri. Musik etnik menurut standar siapa? Kurator?
Dan pertanyaan pun terujar sekali lagi. Musik etnik itu yang seperti apa? Apakah sudah pantas semua penampil SIEM 2008 ini disebut sebagai musisi etnik? Saya dan teman saya itu memang masih kebingungan dengan definisi musik etnik itu sendiri, begitu juga dengan si orang dalam yang saya ajak berbincang tadi, yang mengatakan kalau sangatlah sulit untuk mendefinisikan musik etnik.
Dengan judul acara Solo International Ethnic Music 2008, Festival & Education, sudah sepantasnya kalau panitia acara memberikan pelajaran kepada publik tentang apa dan bagaimana musik etnik itu.
Jangan sampai orang berpikir bahwa Syaharani adalah pengusung musik etnik. Karena kalau sampai timbul stigma musisi yang menggabungkan alat musik modern dan tradisional pantas disebut sebagai musisi etnik, maka sebaiknya di penyelenggaraan tahun ketiga panitia mengundang Sepultura sebagai penampil. Kalau itu terjadi, maka tentunya saya akan hadir di front row. :D
i think its New Age music ... New Age khan gabngan antara musik etnik ma kontemporer?
kalau mengenai musik ma, aku peminat aja. bukankah itu fungsinya musik? buat di nikmati. kalau masih terganggu ma definisi etnik dan kontemporer, berarti masih terikat dengan politik ;) hehehhe
i think its New Age music ... New Age khan gabngan antara musik etnik ma kontemporer?
kalau mengenai musik ma, aku peminat aja. bukankah itu fungsinya musik? buat di nikmati. kalau masih terganggu ma definisi etnik dan kontemporer, berarti masih terikat dengan politik ;) hehehhe
then it should be named Solo International New Age Music 2008 (SINAM), haha..
bukankah penyelenggaraan SIEM sendiri erat kaitannya dengan politik? politik untuk memberi kesan bahwa selain belum bisa mengkonsep 'pornografi', Indonesia ternyata punya sajian musik 'etnik' yang pantas diunggulkan. hehe
kita nikmati saja bol.. menurut isu yang dilontarkan DPRD solo, ini adalah SIEM terakhir karena ancaman yang dikeluarkan oleh DPRD karena tidak adanya transparansi dana oleh panitia, utang yang menumpuk sebesar rp.700juta untuk SIEM 2007 (dan kemungjkinan besar tahun 2008 lebih besar lagi) dan juga tidak adanya imbas positif terhadap peningkatan jumlah wisatawan di kota solo sendiri.. jadi,,nikmati saja (mungkin) tahun terakhir ini..
it's not about enjoying the festival, it's about questioning the truth
panitia sudah terlanjur menggunakan kata 'etnik' dan 'education'.. mengedukasi pendengar untuk percaya bahwa Syaharani adalah musisi etnik menurut gue lebih keji daripada berhutang Rp 700 juta dan tidak adanya transparansi dana :D
menurut bocoran 'orang dalam', SIEM 2009 akan lebih megah dari SIEM 2008 ini..pembodohan massal dalam skala yg lebih besar lagi? :)
eee...... yang jelas SIEM kali ni ga bisa dinikmati... menurutku agenda SIEM kali ini...HUJAN dan HUJAN hehehee..... etnik ya...aku kemarin ga tertarik ma panggungnya...ga bagus....
tapi ya bol kalo diliat dari sisi publikasi dan dampaknya terhadap pariwisata kota solo lumayan luar biasa loh bol.. i mean,,sebagai orang yang tiap ari ngantor dan bergumul dengan koran-koran..lumayan fantastis perhatian media nasional terhadap aktitas SIEM ini..dan review nya juga bagus2.. jadi kalo emang mu diliat dari sisi promo, publisitas ato apalah,,dan bukan dari segi konten,,cuma sekedar penyajian..dampak dari event ini bisa dikatakan lumanjan lah bol..
yah ini kan dari sudut pandang penonton.. lagian gue cuma (sok) concern doang koq Mel, tar dibilang gak nasionalis lagi kalo gak peduli sama ciri khas bangsa, hahahahaha..